1 Mar 2014

Sosok Pecundang Malam


Tanpa dosa kau berkilah
Tanpa rasa kau tak peduli
Mengisi hidup yang luar biasa menjadi biasa

Bagaikan perang di dini hari dengan kegelapan remang-remang
Tak tau arah sasaran, yang ada amukan diri
Malang kian nasib yang tak berdosa
Terkena amukan sang senapan gajah perkasa

kau bukan sang pahlawan
Tapi pejuang dari nasumu sendiri
Alam kian bergemuruh menyaksikan aksi terkonyolmu

kau Bukan penerang bagi kami
Seperti mentari berselimutkan awan kegelapan,,,
Itulah dirimu berselimutkan awan kegelapan

kau menjadi pemenang yang dirasakan kesendirian
Sungguh bergembiranya hatiku akan kejatuhanmu
karena yang tersakiti hanya dirimu,, ya dirimu
Sosok pecundang malam

Pilu rasanya ketika kau melambung di ketinggian
Karena banyak yang tersakiti oleh pijakan langkah penuh durimu
Sadarlah akan ambisimu yang berubah ambisius

Sadarlah Wahai Sosok Pecundang Malam

Ilustrasi : Tresnanti Dewi
Read More >>

29 Jun 2012

Bukan Karena Tuhan Tidak Sempat

Aku belum sempat menuliskannya
Aku belum sempat mengajukannya

Aku menganggap tidak ada
Bukan karena tidak ada
Tapi karena belum ada

Andai saja aku mengetahui apa yang tidak kuketahui
Mungkin sudah kupahami apa yang tidak kuketahui
Bukan aku tidak tahu apa yang tidak kuketahui
Tapi aku belum mampu mengetahui apa yang tidak kuketahui

Jalur pikirku mengarahkan akalku
Bergerak liar lingkari waktu
Pertentangan paradigma dan kebenaran hati semakin beradu
Pada ruang dan dimensi yang tak menyatu

Garis Tuhan menyembul di permukaan bumi
Datang bersama isyarah tak bersembunyi

Sekejap garis itu terlihat samar
Bahkan terlihat memudar

Aku belum sempat menuliskannya
Bukan karena Tuhan tidak sempat
Tapi aku belum jua mampu.
Read More >>

18 Jun 2012



Durjana!! Kamu !!!
Ya itulah kamu
Ya itulah hidupmu

Begitu banyak orang melihatmu
Begitu banyak pujian terlempar atas namamu
Dipuja tak henti ritual tercipta dalam surgamu
Puisi menjadi syair terindah untuk menggambarkanmu
Semua itu terlalu agung untukmu

Aku menoleh kebelakang dibawah bayangku
Terdengar suara parau cacian untuk jasadku
Terbersit ingatan akan sebuah hinaan untukku
Berteriak mereka mengumpatku

Kutukan itu seolah tak akan pernah berhenti
Aku berlari dalam sepi
Kupilih jalan yang sunyi
Jalan yang tak pernah kutelusuri
Jalan yang suci dan abadi
Menuju Sang Hyang Gusti
Read More >>